Ciri-ciri Autisme pada Anak, Kenali Tanda-tanda Ini

Kesehatan, RismanHerbal.com: Melihat anak tumbuh dengan baik adalah harapan semua orang tua. Namun terkadang ada saja yang menghalangi, salah satunya autisme. Autisme paling sering terjadi pada anak-anak. Dalam hal ini autisme cenderung terjadi pada anak laki-laki. Menurut penelitian, perbedaan di dalam otak yang memberi sinyal dalam belajar serta motivasi. Ini yang membuat otak anak laki-laki lebih rentan gen autis. Lalu, apa ciri-ciri autisme pada anak?

Bagaimana gejalanya? Dan apakah autisme bisa sembuh? Berikut ini penjelasannya.

Autisme adalah gangguan perkembangan otak, anak yang mengidap autisme cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisasi. Penyebab pasti autisme tidak diketahui sampai saat ini. Tetapi faktor genetik dan lingkungan dapat memicu terjadinya risiko autisme.

Ciri-ciri Autisme pada Anak

Pengidap autisme dapat terdeteksi sejak bayi, karena autisme memiliki ciri-ciri khusus. Ada 3 ciri-ciri yang dapat menandakan autisme, simak berikut ini.

Sulit berkomunikasi 

Umumnya, anak balita sudah mampu menjawab atau memberi respon saat orang tua mengajak bicara. Namun berbeda dengan pengidap autisme. Mereka sulit untuk memahami apa yang lawan bicara ucapkan. Mereka juga tidak mengerti bahasa isyarat, seperti menunjuk dan melambai. Ciri-ciri autisme pada anak tidak bisa membaca serta menulis seperti anak normal seusianya.

Dalam hal mengutarakan emosi dan keinginan pun sangat sulit. Ini karena mereka hanya bisa mengulang satu kata atau kalimat. Anak autis juga lebih sering tantrum.

Sulit bersosialisasi

Ciri-ciri autisme pada anak selanjutnya adalah sulit bersosialisasi. Anak normal pada umumnya senang berbaur dengan teman sebayanya. Namun pengidap autisme lebih suka menyendiri. Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri. Namun, 80% pengidap autisme tidak merespon saat nama mereka disebut.

Kesulitan dalam bersosialisasi inilah yang membuat anak dengan autisme tidak mudah berteman, bermain dan fokus kepada suatu objek.

Gangguan perilaku

Ciri-ciri autisme pada anak lainnya adalah gangguan perilaku. Gangguan perilaku biasanya marah dan tertawa tanpa sebab; melakukan gerakan berulang, seperti mengayunkan tangan; bahasa dan gerak tubuh cenderung kaku; hanya mau makan makanan tertentu.

Cara Mengasuh Anak Pengidap Autisme

Meski demikian, gejala autisme tidak selalu memburuk. Meski memerlukan tenaga ekstra, ibu tak perlu khawatir. Banyak cara yang bisa ibu lakukan untuk membantu anak berkembang dengan baik. Beberapa hal yang bisa ibu lakukan dalam mengasuh anak pengidap autisme.

  • Pentingnya dukungan keluarga. Hal paling dasar dalam mengasuh pengidap autisme adalah dukungan keluarga. Hal ini sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak dengan autisme.
  • Biasakan memanggil anak dengan namanya.
  • Biasakan berbicara dengan jelas. Ini akan membantunya memahami dan mengerti apa setiap perkataan. Nantinya ia akan belajar berbicara yang baik dengan orang lain. Tambahkan gerakan tubuh dan mimik setiap berbicara.
  • Anak dengan autisme juga berhak mendapatkan pendidikan formal. Ibu bisa mempertimbangkan menyekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB), homeschooling, atau kelas inklusi.
  • Atur waktu belajar yang pas untuknya. Jelaskan apa saja kegiatan hari ini.  Mereka akan belajar mengenai disiplin waktu.
  • Jangan ragu untuk memberi mereka tanggung jawab. Mulai dari hal kecil seperti membuat sampah pada tempatnya, meletakan alat tulis di tempatnya dan lain sebagainya.
  • Berikan reward atas pencapaian mereka.

Penanganan Medis Autisme

Selain mengasuhnya dengan metode khusus, ada baiknya mendapat penanganan secara medis. Biasanya dokter akan memberi terapi yang sesuai.

  • Terapi perilaku dan komunikasi, terapi ini bertujuan untuk memberi pengajaran dasar kehidupan sehari-hari. Seperti komunikasi verbal dan nonverbal.
  • Terapi keluarga, tidak hanya pengidap saja, ayah ibu dan keluarga pengidap juga akan mendapat terapi. Terapi keluarga berisi tentang cara penanganan anak dengan autisme. Pola asuh dan cara berkomunikasi dengan anak autis, salah satunya.
  • Dokter akan memberi obat jika pengidap mengalami gangguan-gangguan lain seperti susah tidur, atau jika muncul gejala kejang-kejang.

Itulah beberapa penjelasan mengenai ciri-ciri autisme pada anak. Kita dapat mencegah autisme sedari dini. Mulai dengan pola hidup sehat. Ibu hamil perokok sangat rentan melahirkan anak autis. Begitu juga dengan usia ibu hamil. Semakin tua usia memiliki anak, semakin tinggi resiko melahirkan anak autis. Ibu hamil usia >= 40 tahun 77% berisiko dibanding ibu hamil usia <=25 tahun.

Sejatinya, semua anak adalah anugrah terindah dari Tuhan. Menjaga serta merawatnya adalah kewajiban orang tua. Tidak perlu berkecil hati jika memiliki anak dengan autisme. Mereka adalah “anak istimewa”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *